Rabu, 29 Januari 2014

NABI YOEL


Pengantar: Mengenal Nabi Yoel dan Penulisannya
            Nama Yoel berasal dari kata Yo, Yahwe yang berarti Tuhan dan El yang berarti Allah. Jadi, Yoel berarti Tuhanlah Allah.[1] Dalam urutan Alkitab, Nabi Yoel ditempatkan sesudah Nabi Hosea, sebagai nabi kecil kedua dari kedua belas nabi kecil lainnya. Tentang waktu penulisan kitab ini, sejumlah sumber menyatakan bahwa kita sulit memastikan secara pasti tentang hal ini. Tetapi sebuah tulisan coba untuk mengangkat tiga pendapat terkait dengan waktu penulisannya. Sebagian besar dugaan yang diterangkan dalam tiga pendapat ini bertolak dari isi tulisan (ayat-ayat) dalam Kitab Yoel, lalu coba ditafsir dan dikaitkan dengan konteks kitab lainnya (misalnya Kitab Raja-Raja). Tiga pendapat itu sebagai berikut.[2]
            Pertama, kitab ini ditulis pada zaman Raja Yoas (835-796 SM). Alasannya, dalam kitab ini tidak disebutkan mengenai adanya raja yang memerintah. Nampaknya, para tua-tua (1:2) dan para imam (1:13) bertanggung jawab dalam kepemimpinan nasional. Dalam sejarah Kerajaan Yehuda, yang cocok adalah masa Raja Yoas, mengingat bahwa Yoas menjadi raja saat masih berumur tujuh tahun dan dia memerintah di bawah bimbingan Imam Besar Yoyada (2 Raja-Raja 11). Gaya bahasa Yoel yang mirip dengan gaya bahasa Amos serta letaknya yang berada di antara kitab Hosea dan kitab Amos menimbulkan dugaan bahwa mereka hidup sezaman, sehingga memperkuat pandangan tradisional ini.
            Kedua, kitab Yoel ditulis sesudah masa pembuangan. Alasannya, dalam kitab ini sebutan Israel tidak menunjuk kepada kerajaan Utara yang lama. Lagi pula, Yoel tidak menyebut mengenai Asyur, Aram, atau Babel. Kemungkinan hal ini disebabkan karena ketiga negara tersebut sudah runtuh. Yoel 3:2 (yang menunjuk kepada pembuangan Babel), penyebutan orang Yunani (3:6), serta kehidupan masyarakat yang berpusat pada ibadah di rumah Tuhan (di Yerusalem) tanpa menyebut tentang raja juga mendukung pendapat bahwa Yoel ditulis sesudah pembuangan.[3]
            Ketiga, kitab Yoel ditulis di antara kedua zaman di atas, yaitu pada zaman Yeremia, tepat sebelum jatuhnya kota Yerusalem. Salah satu alasannya adalah persamaan kitab ini dengan kitab Zefanya dan Yeremia.


Pembagian Kitab Nabi Yoel
            Kitab Yoel dibagi dalam dua bagian[4]: bagian pertama meliputi Yl 1:1 – 2:17, yang menggambarkan tentang bahaya dan kesusahan yang menimpa wilayah Yehuda karena dilanda bencana belalang, bencana yang belum pernah dialami sebelumnya. Di sini, Nabi Yoel menafsirkan peristiwa tersebut sebagai tanda penghakiman Yahwe dan peringatan akan datangnya hari Tuhan. Karena itu, Nabi Yoel sebenarnya mengajak umat untuk melakukan pertobatan.
            Bagian kedua meliputi Yl 2:18 – 3:21. Yoel menyatakan berkat doa umat bencana terhindar dan bahkan berhenti. Lalu menunjukkan penglihatan tentang hari Tuhan, yang dilukiskannya dengan pengadilan dan menekankan kurnia Roh yang akan menjadi awal pembaruan.
            Di bawah ini, kami tidak akan mengulas dua bagian secara terperinci. Kami hanya akan coba mengulas dan mengaangkat sejumlah perikop yang bisa mewakili dua bagian dalam keseluruhan kitab nabi Yoel ini.

Bencana Belalang (Yl 1:1-12)[5]
            Satu-satunya keterangan yang pasti oleh penulis kitab ini tentang Nabi Yoel terdapat pada bagian ini (ay.1) yang menyatakan bahwa ia adalah anak Petuel.[6] Sementara itu, rumusan “Firman Tuhan datang kepada Yoel” merupakan rumusan yang lazim dalam tulisan kitab para nabi. Digambarkan bahwa Yoel adalah seorang yang serius dalam ibadat kenisah. Ada dugaan bahwa ia mungkin memilki peranan dalam hal ibadat tetapi tidak dinyatakan bahwa ia adalah seorang imam. Ia berseru kepada tua-tua dan semua penduduk negeri (Yehuda dan Yerusalem) tentang bencana belalang yang akan datang. Ia tidak hanya berseru tetapi juga mengajak mereka (khususnya kepada tua-tua) untuk mengingat apakah bencana ini pernah terjadi sebelumnya (ay.2-3). Selain itu, rumusan ini juga dapat dilihat sebagai suatu gaya kisah yang menggambarkan betapa besarnya bencana yang akan terjadi itu, bahkan tidak ada yang bisa meringankannya.
            Gaya kisah ini semakin dipertegas dengan akibat yang akan terjadi karena bencana itu. Ay.4 melukiskan perkembangan bencana itu da kehancuran yang diakibatkannya cukup fatal. Belalang pengerip, pindahan, pelompat dan pelahap (bdk. Yl 2:25). Bila belalang pengerip hanya bisa makan tanpa berpidah-pindah, dia hanya menghabiskan makanan di satu tempat. Tetapi digambarkan, belalang pengerip lalu belalang pindahan, pelompat dan akhirnya pelahap sehingga bisa menghabiskan sagalanya. Karena itu kekuatan bencana ini dilukiskan dengan bala tentara (ay.6), yang datang pada musim semi, setelah selesai masa panen karena mereka sudah bisa minum anggur baru (ay.5).
            Dilukiskan pula bahwa masa bencana dekat dengan masa pesta Pondok Daun. Karena itu diduga adanya motif religius yang hendak dimanfaatkan nabi. Tetapi satu hal nampak diperlihatkan, bencana itu sungguh menentukan nasib banyak orang, bahkan orang yang baru nikah ditinggal mati oleh pasangannya (ay.7-8). Tidak hanya itu, besarnya bencana berakibat juga pada persembahan di kenisah yang biasa, tidak dapat dijalankan (ay.9). Hal ini juga berlaku untuk ternak, yang tidak bisa diberi makan karena rerumputan habis diserang bencana belalang. (bdk. 2 Raj 16:15; Ezr 3:3). Ladang juga dilukiskan berkabung, pohon ara merana dan orang kehilangan gairah hidup (ay.10-12).

Ajakan Bertobat (Yl 1:13-20)[7]
            Ay. 13 merupakan ajakan untuk bertindak. Para imam diminta untuk meyerukan puasa dan memberikan contoh yang baik, menggunakan kain kabung sebagai tanda pertobatan. Perkabungan yang biasanya berhenti sampai sore hari, kini diajak untuk berlanjut pada malam hari (bdk. 2Sam 12:16; 1Raj 21:27). Semua orang juga diajak untuk terlibat dalam doa untuk pertolongan Tuhan (ay.14).
            Dalam ay.15, bencana dilihat oleh nabi sebagai awal dari hari kedatangan Tuhan. “Wahai, hari itu! Sungguh, hari Tuhan sudah dekat, datangnya sebagai pemusnahan dari Yang Mahakuasa.” Bagi orang Israel, hari itu dianggap sebagai hari kemenangan Yahwe terhadap bangsa lawannya. Bersamaan dengan itu, hari datangnya Tuhan membuat mereka merasa takut karena hari itu juga merupakan hari pengadilan. Memberi hukuman kepada orang yang jahat dan ganjaran bagi orang baik.
            Lalu ay.17-20 nabi sebenarnya mengajak untuk berdoa dan bertobat yang diakhiri dengan gambaran tentang penderitaan dengan biji-bijian menjadi kering, hewan mengeluh dan bahkan binatang-binatang jalang di padang menjerit merindukan Tuhan.

Hari Muram Durja (Yl 2:1-17)[8]
            Nabi Yoel berseru supaya tanduk, sangkakal ditiup untuk menyerukan hari Tuhan (ay.1). Selanjutnya (ay.2-10) ada banyak pengulangan seperti gambaran sebelumnya untuk menggambarkan tentang hari datangnya Tuhan, sampai akhirnya penekanan tentang gambaran ini ditempatkan pada ay.11, yang digambarkan dengan serbuan bala tentara.
            Jika Amos menggambarkan hari Tuhan sebagai kegelapan, Yoel melukiskan kegelapan karena debu yang dibawa oleh bencana (ay.2). Serbuan belalang begitu ganas sampai dimana pun juga, melewati tembok kota, memasuki jendela rumah-rumah (ay.7-9). Seluruh bumi ikut bergetar (ay.10). Semua hal ini merupakan gambaran yang lazim digunakan untuk melukiskan pengadilan terakhir (bdk. Mrk 13:24-25).
            Selanjutnya, dengan gaya bahasa klasik, nabi mengajak orang kembali kepada Yahwe (ay12-17; bdk. Hos 2:9; Yer 3:12-14). Pada bagian ini, tanda-tanda lahirian pertobatan disebutkan tetapi sikap batiniah mendapat penekanan lebih yang harus dipupuk (ay.13). Di sini, seruan Yoel sebenarnya seruan pembaruan janji dengan Yahwe, yang harus menjadi perjanjian baru. Karena itu, bukan pakaian yang terutama harus disobek melainkan hati agar rahmat Tuhan merasuki dan menjadikannya baru. Para imam diharapkan menyelenggarakan perkumpulan raya untuk melakukan pertobatan bersama. Situasi begitu mendesak sehingga semua terlibat dalam aksi pertobatan ini, yang tua, anak-anak, bayi dan bahkan mereka yang baru menikah. Para imam berdiri di antara balai depan dan mesbah, menangis sebagai tanda penyesalan atas segala dosa. Semua usaha ini dilakukan untuk menarik perhatian Tuhan akan kasih-Nya kepada bangsa pilihan. Jika Tuhan tidak membantu, maka bangsa-bangsa lain tidak akan percaya bahwa Yahwe Israel sungguh berkuasa (ay.17)

Bergembira Dalam Tuhan (Yl 2:18-27)[9]
            Ay. 18 merupakan titik balik kitab Yoel, “Tuhan menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia belas kasihan kepada umat-Nya.” Jika pada bagian sebelumnya dilukiskan bencana dan diberikan arah tindakan yang harus diambil dalam iman, yaitu penyesalan dan pertobatan. Setelah ay.18, nabi menggambarkan bagaimana seruan bangsa ditanggapi oleh Yahwe dengan berkat-Nya. Berkah yang tadi hilang kini sudah kembali, ada lagi gandum, anggur, minyak dan kebutuhan sehari-hari (ay.19). Tindakan Yahwe ini menyingkirkan cela atas umat-Nya (ay. 19,23,26,27, guna menegaskan Tuhan memang agung dan pantas dipercaya.
            Tentang ungkapan “yang datang dari Utara,” sebutan ini dilihat sebagai arah serangan bencana karena bahaya besar yang mengancam bangsa Israel seringkali datang dari utara. Karena itu memang, perjuangan untuk melawan musuh dari utara menjadi simbol perjuangan mereka selanjutnya.
            Berkat Tuhan dilukiskan dengan datangnya hujan tepat pada waktunya (ay.23). Dari kemurahan Tuhan itu, ternak menjadi sehat dan kuat, tanah menjadi segar dan ceria. Hal ini menjadi tanda bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah bangsa (ay.27). Penekanan pada keunikan Yahwe dan keterlibatan-Nya merupakan jawaban yang menentukan atas seruan umat yang khawatir bahwa bangsa lain akan mengejek keagungan bangsa Israel (ay.27).

Kurnia Roh (Yl 2:28-32)[10]
            Tanda yang paling mencolok tentang hari Tuhan ialah curahan Roh Allah. Dakam tradisi orang Israel, Roh dikurniakan secara khusus bagi orang yang diutus Yahwe untuk melaksanakn pengadilan, penentuan, seperti halnya para Hakim, Raja dan nabi (Bdk. Hak 6:34; 1Sam 16:13; Yeh 11:15). Roh yang ada pada Musadiberikan kepada para tetua untuk melangsungkan karya pelayanan Musa bagi seluruh umat. Musa juga mengharapkan kurnia itu dialami umat pada hari datangnya Tuhan, sebagaimana dinubuatkan juga oleh para nabi sebelum Yoel. Perjanjian Baru melihat kurnia ini sebagai pemberian Yesus Kristus yang menegaskan datangnya zaman baru, zaman pembaruan. Selain itu, “orang yang terlepas” dimengerti sebagai orang yang dipanggil Tuhan, orang yang bebas, orang yang sudah memiliki tanah, dan bahkan menduduki wilayah musuh (bdk. Zef 2:7-9).

Yerusalem akan Dikuduskan (Yl 3:17-21)[11]
            Apa yang awal diserukan sebagai ancaman, pada akhirnya berubah menjadi seruan kegembiraan dan kepercayaan yang besar terhadap Yahwe yang menjadi kekuatan mereka. Bencana dan musuh tidak akan mengganggu Israel ketika iman mereka akan Yahwe tetap teguh dan utuh. Bnecana belalang yang berhenti berkat doa dan persembahan mereka merupakan tanda bahwa Yahwe tetap mendengarkan umat-Nya. Yahwe akan diakui sebagai Allah yang besar (ay.17). Meminjam gambaran Am 9:13, Yoel melukiskan kemegahan dan meluapnya berkah seperti pada zaman mesias (keselamatan). Gunung-gunung meniriskan anggur baru, bukit-bukit akan mengalirkan susu. Israel yang kesulitan air dianugerahi berkah air yang melimpah.
            Bagian akhir nabi masih menggambarkan bagaimana lawan Israel yang lain akan merana, Mesir dan Edom akan menjadi padang gurun tetapi Yehuda akan didiami selamanya. Orang yang percaya tidak usah takut akan bencana maupun lawan karena Yahwe ada di tengah-tengah mereka (ay.21).

Penutup
            Secara umum nabi Yoel bernubuat tentang hari datangnya Tuhan. Dalam hari datangnya Tuhan, ada dua kemungkinan tanggapan umat, yaitu mendatangkan kegembiraan atau kemenangan dan mendatangkan ketakutan karena saat itulah kita akan dihakimi. Kami menduga, Yoel atau para muridnya mungkin mengikuti pola ini dalam menyusun kitabnya. Tetapi hal yang menarik ialah mereka membuka dengan sesuatu yang menakutkan berakhir dengan sesuatu yang menggembirakan. Awal, dengan berita yang menakutkan justru menunjukkan peran kenabian Yoel yang dipilih Yahwe untuk bernubuat kepada umat di Yehuda karena mereka tidak mengindahkan Firman-Nya. Untuk itu, selain bernubuat tentang bencana yang akan menimpa semua umat, Yoel mengajak mereka untuk berkabung dan bertobat. Berkat doa dan pertobatan yang mereka lakukan, akhirnya Tuhan berbelas kasih dan menghentikan bencana atas mereka. Tetapi bersamaan dengan seruan pertobatan itu, seruan tentang hari datangnya Tuhan seringkali diungkapkan dan bahkan gambaran tentang bencana itu dilihat sebagai gambaran akan saat datangnya hari Tuhan. Sampai akhirnya, seruan tentang datangnya hari Tuhan yang mulanya mendatangkan ketakutan berubah menjadi kegembiraan dan keselamatan.
            Tetapi dibalik itu, sebagaimana yang dinyatakan Darmawijaya, di sini, nabi tampaknya tidak mampu merumuskan universalisme keselamatan yang menjadi ciri nabi-nabi sebelumnya. Pada masa kerajaan, Israel mempu berbicara sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Kini, sebagai orang-orang yang kembali dari pembuangan, Israel sulit melepaskan diri dari pengalaman pahit, lalu terkungkung dalam dirinya sendiri. Dunia lain dilihat sebagai ancaman, sehingga gambaran Yesaya yang indah bahwa bangsa-bangsa akan menuju Yerusalem tidak terolah kembali. Nabi hanya membatasi diri pada umat Yehuda.



Daftar Sumber:

Achtemeier, Elizabeth, “The Book of Yoel”, dalam The New Interpreter’s Bible. A Commentary in Twelve Volumes. Vol. III, Nashville: Abingdon Press, , 1994.

Darmawijaya, S., Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya, Yogyakarta: Kanisius, 1990.

Majelis Agung Wali-wali Gereja di Indonesia, Kitab Para Nabi II, Ende-Flores: Nusa Indah,  1966.

Samuel David Immanuel, Mengenal Nabi Yoel dan Nabi Amos, diunduh Jumat, 22 November 2013, pkl 10.20. http://indonesia99.blogspot.com/2008/07/mengenal-kitab-yoel-dan-kitab-amos.html



[1] Achtemeier, Elizabeth, “The Book of Yoel”, dalam The New Interpreter’s Bible. A Commentary in Twelve Volumes. Vol. I, Abingdon Press, Nashville, 1994, hal. 305.
[2] Samuel David Immanuel, Mengenal Nabi Yoel dan Nabi Amos, diunduh Jumat, 22 November 2013, pkl 10.20. http://indonesia99.blogspot.com/2008/07/mengenal-kitab-yoel-dan-kitab-amos.html
[3] Pendapat di atas juga didukung oleh pernyataan  Darmawijaya yang menyatakan, “Nabi Yoel hidup diperkirakan jauh setelah kembalinya Israel dari pembuangan di Babel dan berkarya sekitar tahun 400 SM. Waktu itu, kehidupan religius cukup kuat dan dikuasai oleh para imam, kenisah sudah dibangun dan digunakan sebagai tempat ibadah. Negara dalam kondisi politik dan keagamaan yang baik. Bangsa Israel hidup dalam semangat beribadah yang tinggi yang ditunjukkan dengan semangat umat untuk bertobat dan berdoa. Akan tetapi kondisi tersebut menyebabkan Israel menjadi kelompok yang sangat memikirkan terbatas pada kepentingan ke dalam dan kurang berperan dalam lingkungan yang lebih luas.” Bdk. Darmawijaya, S., Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya, Yogyakarta: Kanisius, 1990, hal.126.
[4] Ibid., hal. 126.
[5] Ibid., hal. 129-129
[6] Majelis Agung Wali-wali Gereja di Indonesia, Kitab Para Nabi II, Ende-Flores: Nusa Indah,  1966, hal. 67.
[7] Lih., Darmawijaya, Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya, hal. 129-130.
[8] Lih., Darmawijaya, Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya, hal. 130-131.
[9] Lih., Darmawijaya, Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya, hal. 131.
[10] Lih., Darmawijaya, Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya, hal. 131.
[11] Lih., Darmawijaya, Warta Nabi Masa Pembuangan dan Sesudahnya, hal. 133-134.

1 komentar:

  1. Merkur 15c Safety Razor - Barber Pole - Deccasino
    Merkur 15C Safety Razor - worrione.com Merkur poormansguidetocasinogambling - 15C for Barber Pole is https://deccasino.com/review/merit-casino/ the perfect https://febcasino.com/review/merit-casino/ introduction 토토 사이트 도메인 to the Merkur Safety Razor.

    BalasHapus