Perikop Kel. 15: 1-21 ini merupakan
salah satu bagian dari tema besar tentang narasi pembebasan dalam Kitab Suci.
Lebih dari itu, perikop ini menjadi puncak dari narasi tentang pembebasan itu.
Tema besar tentang narasi pembebasan itu sendiri (Kel 1:1 – 15:21) merupakan inti
identitas orang Yahudi (sebagai bangsa pilihan Allah) dan kemudian menjadi
bagian dari ekspresi iman Kristiani. Dari segi struktur, narasi pembebasan ini
memiliki kekuatan dan gaya narasi yang dramatis: mulai dari penindasan dan
berakhir dengan pembebasan serta perayaannya. Praktis, nuansa perayaan atas
peristiwa itu, yaitu pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir,
diungkapkan dalam perikop (Kel. 15:1-21) yang akan saya rampung dalam tulisan
ini, yaitu ‘Nyanyian Musa dan Miryam’ berdasarkan tafsir, komentar dan refleksi
Walter Brueggemann, penulis teks ini.
Menurut penulis, perikop ini (Kel
15:1-21) merupakan sebuah pujian penutup yang amat agung dalam kisah pembebasan
ini. Pujian ini terdiri dari dua bagian syair, bagian syair yang panjang (ay.
1-18) sering disebut “Nyanyian Musa” dan bagian syair yang pendek (ay. 20-21) sering
disebut “Nyanyain Miryam”. Diantara dua bagian syair atau nyanyain ini terdapat
sebuah prosa (ay. 19) yang dalam konteks penulisan kitab ini, dilihat sebagai
penghubung sekaligus menggambarkan, bagaimana Allah mengakhiri tindakan
pembebasan atas bangsa Israel dari pengejaran tentara Mesir (bdk. Kel 14:26-29).
2.1. Nyanyian Musa (Kel. 15:1-18)
Walter Brueggemann membuat hubungan
antara unit-unit teks ini sebagai berikut:
A Ay.
1-3: Sebuah introduksi, yang
menggambarkan bagaimana Yahwe yang mereka puji melempar kuda dan penunggangnya
(tentara Firaun) ke dalam laut.
B Ay.
4-10: Bagian inti yang pertama, yaitu sebuah nyanyian kemenangan. Secara
umum bagian ini menggambarkan kemenangan kuasa/otoritas Allah Israel atas
lawan/musuh mereka, yaitu Firaun dan tentara pilihannya.
C Ay. 11-12: Bagian pusat, yaitu sebuah doxologi yang mengakui/afirmasi
‘keberbedaan’ sekaligus ‘ketaktandingan’
kuasa Allah Israel.
B’ Ay. 13-17: Bagian inti yang kedua. Bagian ini lebih menggambarkan
kemenangan Allah yang dirayakan dalam sebuah prosesi. Prosesi yang dilukiskan
dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Dalam konteks lain, prosesi ini juga
menggambarkan perjalananan bangsa Israel menuju kehidupan yang baik, tidak seperti di Mesir.
A’ Ay. 18: Konklusi/penutup yang singkat
tetapi menggambarkan bangsa Israel menobatkan sekaligus mengantisipasi
kekuasaan/pemerintahan Yahwe sebagai Allah mereka selanjutnya.
Bagi Brueggemann, penggalan perikop ini memang diakui sebagai
salah satu syair yang paling tua, paling radical dan paling penting. Pengakuan
ini disebabkan tidak hanya karena syair ini menggambarkan sesuatu yang paling
dasar dalam iman orang Israel tetapi syair ini juga menyajikan sebuah bentuk
dan runutan perjalanan iman. Lantas, dalam perkembangan interpretasi, penulis
(Walter Brueggemann) mengingatkan bahwa penggalan perikop ini hendaknya dilihat
dalam kesatuan dua hal ini: kisah pembebasan – perjalanan bangsa Israel dari
perbudakan Firaun menuju tanah terjanji – dan tema tentang terciptanya sebuah
liturgy yang menggambarkan dan menunjukkan kemengan Allah atas kekuatan jahat
serta membentuk dunia yang aman bagi kehidupan.
2.2. Prosa Penghubung dan ‘Pengakhiran’
(Kel. 15:19)
Sebagaimana yang telah dinyatakan di
atas, keberadaan dan isi ayat 19 dalam perikop ini dilihat sebagai: di satu
sisi, sebagai penghubung dua bagian syair atau nyanyain pujian ini dan di sisi
lain sebagai penutup atau ‘pengakhiran’ tindakan pembebasan yang dilakukan
Allah atas penindasan Mesir atau pengejaran Firaun beserta tentara pilihannya.
Hal ini dinyatakan oleh Allah melalui Musa dalam suatu tindakan yang
menakjubkan, laut kembali seperti semula (bdk.
Kel. 14:26-29).
2.3. Nyanyian Miryam
Dinyatakan bahwa syair ini merupakan
sebuah syair kuno orang Israel. Karena itu, syair ini sengaja diambil mungkin
untuk mengingatkan mereka akan akhir dari kisah pembebasan yang dilakukan Allah
kepada mereka. Selain itu, syair ini juga telah dikutip pada bagian awal syair
atau nyanyian Musa. Syair yang sama digunakan untuk membuka dan menutup.
Hal lain yang perlu diperhatikan,
penulis menyatakan bahwa nyanyian/madah singkat ini sebenarnya mengikuti pola
gubahan madah orang Israel pada umumnya yang mencakup dua hal ini: Orang yang
menjadi tujuan dari pujian kita, yaitu Yahwe dan alasan kita memuji Yahwe,
yaitu Ia telah menanggulangi kekuatan lain yang menyesakkan dan menyesatkan. Selain
itu, penggambaran Myriam dan perempuan Israel lainnya yang bernyanyi, kiranya
mengingatkan kita akan kenyataan dibanyak tempat tentang beberapa perempuan
yang memiliki keahlian khusus untuk bernyanyi saat ada kematian (Yer 9:17).
Dalam arti ini, kita juga hendaknya memahami peran Myriam dan perempuan Israel
yang bernyanyi dengan penuh sukacita dalam penggalan perikop ini. Lebih dari
itu, pujian dalam konteks pembebasan dalam kitab Keluaran ini kemudian menjadi
gaya atau model pujian dalam liturgy kemudian. Model pujian ini adalah model
standar tetapi hal yang paling penting bagi kita adalah pujian itu diungkapkan
sukacita dan akhirnya membawa kita pada pembebasan. Sukacita atas tindakan
pembebasan yang telah dilakukan Allah sambil tetap berharap akan penyertaan-Nya
dalam perjalanan hidup selanjutnya.
III. Penutup
Pada bagian penutup ini, saya juga
akan menyampaikan tanggapan atau komentar saya terhadap tafsiran atau tepatnya
komentar penulis atas perikop ini, baik dari segi struktur maupun dari segi isi
syairnya. Tanggapan atau komentar saya ini lahir dari sejumlah pertanyaan,
diantaranya, hal apa yang dalam perikop ini menunjukkan kekhasan sekaligus
kesinambungannya dengan perikop pembebasan lain serta bahan yang saya dapat
kuliah? Apa yang saya dapatkan dari perikop ini guna menunjang iman dan
identitas saya sebagai orang Kristen? Adakah nuansa pembebasan lain yang kurang
ditekankan oleh penulis teks dalam menafsir teks perikop ini?
Pertama,
metode pengulangan syair yang dilakukan pada bagian awal dan akhir perikop ini
menunjukkan kekhasan cara penulisan kisah-kisah dalam kitab Suci (Bdk. Kel 20: 2-17 dan Ul. 5:6-21) atau syair-syair
sebagaimana yang sering dilakukan dalam syair kitab nabi-nabi. Tetapi terlepas
dari kekhasan metode ini, pengulangan sebenarnya berguna untuk memberi
penegasan atau bahkan penggenapan. Sebagaimana dalam perikop ini, syair
terakhir yang diungkapkan dalam nyanyian Myriam dan dikutib lalu ditempatkan
pada bagian awal nyanyian Musa juga sebenarnya dilihat sebagai penegasan akan
syair kuno dalam madah orang Israel. Selain itu, dalam konteks perikop ini (Kel
15:1-21), syair ini dijadikan sebagai peringatan/pengenangan akan momen
tindakan pembebasan yang baru saja mereka alami.
Kedua,
menarik bahwa penulis juga menyatakan atau mengingatkan (secara implisit) bahwa
dalam memahami perikop ini atau seluruh tema besar tentang narasi pembebasan
ini, kita tidak boleh melihat tindakan pembebasan yang dilakukan Yahwe atas
bangsa Israel ini terlepas dari pengaruh yang ditimbulkannya kemudian, yang
tidak lain adalan pengaruh terhadap iman mereka. Bahkan, secara eksplisit
dinyatakan bahwa narasi tentang tindakan pembebasan Allah ini menjadi inti
identitas bangsa Israel sebagai bangsa pilihan. Bagi saya, hal yang sama
kiranya menjadi harapan yang dialamatkan kepada kita. Kisah pembebasan dalam
Kitab Suci kiranya memberikan landasan iman yang sungguh-sungguh membebaskan
bagi kita dalam setiap pengalaman hidup kita. Kisah pembebasan yang dialami
oleh bangsa Israel kiranya menggugah kita juga untuk melihat tindakan
pembebasan yang dilakukan Allah dalam hidup harian kita.
Ketiga,
salah satu nuansa pembebasan yang sepertinya kurang ditekankan oleh Walter
Brueggeman dalam tulisannya tentang perikop ini adalah soal pembebasan terhadap
kaum perempuan. Peran Myriam dan perempuan-perempuan Israel lainnya yang ikut
bernyanyi dengan gembira dalam perikop ini sebenarnya juga menunjukkan
pembebasan bagi kalangan mereka (kaum perempuan) yang dalam konteks budaya
mereka sering dijadikan “nomor dua” atau disamakan dengan harta. Selain
menunjukkan nuansa pembebasan, perikop ini juga menujukkan peran kaum perempuan
dalam konteks pujian atau liturgy kemenangan yang sedang mereka rayakan,
sebagaimana biasanya kaum perempuan kurang mendapat peran, apalagi dalam
upacara ibadat.
Sumber:
Brueggemann, Walter, “The Book of Exodus:
Introduction, Commentary, and Reflections”,
dalam The New Interpreter’s Bible. A
Commentary in Twelve Volumes. Vol. I, Abingdon Press, Nashville, 1994, hal.
690-691, 773-774, 797-804.

Is Titanium a Metal-Stem - Titanium Arts
BalasHapusThe titanium easy flux 125 amp welder idea of "iron" titanium security is to create "iron" a head titanium ti s6 piece of metal that titanium cerakote is not an alloy. ford fusion titanium for sale
a627u0ehkhu867 male sex dolls,adult sex toys,prostate massagers,cheap sex toys,vibrators,dog dildo,dog dildos,women sex toys,wholesale sex doll i577z7puhek254
BalasHapus