Rabu, 29 Januari 2014

NYANYIAN MUSA DAN MIRYAM (Kel 15:1-21)



I. Pengantar
            Perikop Kel. 15: 1-21 ini merupakan salah satu bagian dari tema besar tentang narasi pembebasan dalam Kitab Suci. Lebih dari itu, perikop ini menjadi puncak dari narasi tentang pembebasan itu. Tema besar tentang narasi pembebasan itu sendiri (Kel 1:1 – 15:21) merupakan inti identitas orang Yahudi (sebagai bangsa pilihan Allah) dan kemudian menjadi bagian dari ekspresi iman Kristiani. Dari segi struktur, narasi pembebasan ini memiliki kekuatan dan gaya narasi yang dramatis: mulai dari penindasan dan berakhir dengan pembebasan serta perayaannya. Praktis, nuansa perayaan atas peristiwa itu, yaitu pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, diungkapkan dalam perikop (Kel. 15:1-21) yang akan saya rampung dalam tulisan ini, yaitu ‘Nyanyian Musa dan Miryam’ berdasarkan tafsir, komentar dan refleksi Walter Brueggemann, penulis teks ini.

II. Gambaran Umum dan Komentar
            Menurut penulis, perikop ini (Kel 15:1-21) merupakan sebuah pujian penutup yang amat agung dalam kisah pembebasan ini. Pujian ini terdiri dari dua bagian syair, bagian syair yang panjang (ay. 1-18) sering disebut “Nyanyian Musa” dan bagian syair yang pendek (ay. 20-21) sering disebut “Nyanyain Miryam”. Diantara dua bagian syair atau nyanyain ini terdapat sebuah prosa (ay. 19) yang dalam konteks penulisan kitab ini, dilihat sebagai penghubung sekaligus menggambarkan, bagaimana Allah mengakhiri tindakan pembebasan atas bangsa Israel dari pengejaran tentara Mesir (bdk. Kel 14:26-29).

2.1. Nyanyian Musa (Kel. 15:1-18)
            Walter Brueggemann membuat hubungan antara unit-unit teks ini sebagai berikut:
A   Ay. 1-3: Sebuah introduksi, yang menggambarkan bagaimana Yahwe yang mereka puji melempar kuda dan penunggangnya (tentara Firaun) ke dalam laut.
B      Ay. 4-10: Bagian inti yang pertama, yaitu sebuah nyanyian kemenangan. Secara umum bagian ini menggambarkan kemenangan kuasa/otoritas Allah Israel atas lawan/musuh mereka, yaitu Firaun dan tentara pilihannya.
            C   Ay. 11-12: Bagian pusat, yaitu sebuah doxologi yang mengakui/afirmasi ‘keberbedaan’ sekaligus  ‘ketaktandingan’ kuasa Allah Israel.
B’   Ay. 13-17: Bagian inti yang kedua. Bagian ini lebih menggambarkan kemenangan Allah yang dirayakan dalam sebuah prosesi. Prosesi yang dilukiskan dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Dalam konteks lain, prosesi ini juga menggambarkan perjalananan bangsa Israel menuju kehidupan yang baik, tidak seperti di Mesir.
A’    Ay. 18: Konklusi/penutup yang singkat tetapi menggambarkan bangsa Israel menobatkan sekaligus mengantisipasi kekuasaan/pemerintahan Yahwe sebagai Allah mereka selanjutnya.

Bagi Brueggemann, penggalan perikop ini memang diakui sebagai salah satu syair yang paling tua, paling radical dan paling penting. Pengakuan ini disebabkan tidak hanya karena syair ini menggambarkan sesuatu yang paling dasar dalam iman orang Israel tetapi syair ini juga menyajikan sebuah bentuk dan runutan perjalanan iman. Lantas, dalam perkembangan interpretasi, penulis (Walter Brueggemann) mengingatkan bahwa penggalan perikop ini hendaknya dilihat dalam kesatuan dua hal ini: kisah pembebasan – perjalanan bangsa Israel dari perbudakan Firaun menuju tanah terjanji – dan tema tentang terciptanya sebuah liturgy yang menggambarkan dan menunjukkan kemengan Allah atas kekuatan jahat serta membentuk dunia yang aman bagi kehidupan.

2.2. Prosa Penghubung dan ‘Pengakhiran’ (Kel. 15:19)
            Sebagaimana yang telah dinyatakan di atas, keberadaan dan isi ayat 19 dalam perikop ini dilihat sebagai: di satu sisi, sebagai penghubung dua bagian syair atau nyanyain pujian ini dan di sisi lain sebagai penutup atau ‘pengakhiran’ tindakan pembebasan yang dilakukan Allah atas penindasan Mesir atau pengejaran Firaun beserta tentara pilihannya. Hal ini dinyatakan oleh Allah melalui Musa dalam suatu tindakan yang menakjubkan, laut kembali seperti semula (bdk. Kel. 14:26-29).

2.3. Nyanyian Miryam
            Dinyatakan bahwa syair ini merupakan sebuah syair kuno orang Israel. Karena itu, syair ini sengaja diambil mungkin untuk mengingatkan mereka akan akhir dari kisah pembebasan yang dilakukan Allah kepada mereka. Selain itu, syair ini juga telah dikutip pada bagian awal syair atau nyanyian Musa. Syair yang sama digunakan untuk membuka dan menutup.
            Hal lain yang perlu diperhatikan, penulis menyatakan bahwa nyanyian/madah singkat ini sebenarnya mengikuti pola gubahan madah orang Israel pada umumnya yang mencakup dua hal ini: Orang yang menjadi tujuan dari pujian kita, yaitu Yahwe dan alasan kita memuji Yahwe, yaitu Ia telah menanggulangi kekuatan lain yang menyesakkan dan menyesatkan. Selain itu, penggambaran Myriam dan perempuan Israel lainnya yang bernyanyi, kiranya mengingatkan kita akan kenyataan dibanyak tempat tentang beberapa perempuan yang memiliki keahlian khusus untuk bernyanyi saat ada kematian (Yer 9:17). Dalam arti ini, kita juga hendaknya memahami peran Myriam dan perempuan Israel yang bernyanyi dengan penuh sukacita dalam penggalan perikop ini. Lebih dari itu, pujian dalam konteks pembebasan dalam kitab Keluaran ini kemudian menjadi gaya atau model pujian dalam liturgy kemudian. Model pujian ini adalah model standar tetapi hal yang paling penting bagi kita adalah pujian itu diungkapkan sukacita dan akhirnya membawa kita pada pembebasan. Sukacita atas tindakan pembebasan yang telah dilakukan Allah sambil tetap berharap akan penyertaan-Nya dalam perjalanan hidup selanjutnya.

III. Penutup
            Pada bagian penutup ini, saya juga akan menyampaikan tanggapan atau komentar saya terhadap tafsiran atau tepatnya komentar penulis atas perikop ini, baik dari segi struktur maupun dari segi isi syairnya. Tanggapan atau komentar saya ini lahir dari sejumlah pertanyaan, diantaranya, hal apa yang dalam perikop ini menunjukkan kekhasan sekaligus kesinambungannya dengan perikop pembebasan lain serta bahan yang saya dapat kuliah? Apa yang saya dapatkan dari perikop ini guna menunjang iman dan identitas saya sebagai orang Kristen? Adakah nuansa pembebasan lain yang kurang ditekankan oleh penulis teks dalam menafsir teks perikop ini?
            Pertama, metode pengulangan syair yang dilakukan pada bagian awal dan akhir perikop ini menunjukkan kekhasan cara penulisan kisah-kisah dalam kitab Suci (Bdk. Kel 20: 2-17  dan Ul. 5:6-21) atau syair-syair sebagaimana yang sering dilakukan dalam syair kitab nabi-nabi. Tetapi terlepas dari kekhasan metode ini, pengulangan sebenarnya berguna untuk memberi penegasan atau bahkan penggenapan. Sebagaimana dalam perikop ini, syair terakhir yang diungkapkan dalam nyanyian Myriam dan dikutib lalu ditempatkan pada bagian awal nyanyian Musa juga sebenarnya dilihat sebagai penegasan akan syair kuno dalam madah orang Israel. Selain itu, dalam konteks perikop ini (Kel 15:1-21), syair ini dijadikan sebagai peringatan/pengenangan akan momen tindakan pembebasan yang baru saja mereka alami.
            Kedua, menarik bahwa penulis juga menyatakan atau mengingatkan (secara implisit) bahwa dalam memahami perikop ini atau seluruh tema besar tentang narasi pembebasan ini, kita tidak boleh melihat tindakan pembebasan yang dilakukan Yahwe atas bangsa Israel ini terlepas dari pengaruh yang ditimbulkannya kemudian, yang tidak lain adalan pengaruh terhadap iman mereka. Bahkan, secara eksplisit dinyatakan bahwa narasi tentang tindakan pembebasan Allah ini menjadi inti identitas bangsa Israel sebagai bangsa pilihan. Bagi saya, hal yang sama kiranya menjadi harapan yang dialamatkan kepada kita. Kisah pembebasan dalam Kitab Suci kiranya memberikan landasan iman yang sungguh-sungguh membebaskan bagi kita dalam setiap pengalaman hidup kita. Kisah pembebasan yang dialami oleh bangsa Israel kiranya menggugah kita juga untuk melihat tindakan pembebasan yang dilakukan Allah dalam hidup harian kita.
            Ketiga, salah satu nuansa pembebasan yang sepertinya kurang ditekankan oleh Walter Brueggeman dalam tulisannya tentang perikop ini adalah soal pembebasan terhadap kaum perempuan. Peran Myriam dan perempuan-perempuan Israel lainnya yang ikut bernyanyi dengan gembira dalam perikop ini sebenarnya juga menunjukkan pembebasan bagi kalangan mereka (kaum perempuan) yang dalam konteks budaya mereka sering dijadikan “nomor dua” atau disamakan dengan harta. Selain menunjukkan nuansa pembebasan, perikop ini juga menujukkan peran kaum perempuan dalam konteks pujian atau liturgy kemenangan yang sedang mereka rayakan, sebagaimana biasanya kaum perempuan kurang mendapat peran, apalagi dalam upacara ibadat.


Sumber:
Brueggemann, Walter, “The Book of Exodus: Introduction, Commentary, and Reflections”, dalam The New Interpreter’s Bible. A Commentary in Twelve Volumes. Vol. I, Abingdon Press, Nashville, 1994, hal. 690-691, 773-774, 797-804.

2 komentar: